Detail Berita
DISKOMINFOSTANDI KATINGAN SOSIALISASI PENCEGAHAN STUNTING LEWAT KALENDER
Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfostandi) Kabupaten Katingan melalui Bidang Pengelolaan Komunikasi Publik melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pencegahan Stunting melalui Media Kalender di beberapa desa di wilayah seperti Desa Tewang Manyangen, Tewang Rangkang, dan Tewang Darayu, pada 7– 17 Oktober 2025.
Menurut Kepala Dinas Kominfostandi Kab. Katingan Wim, berbeda dari sosialisasi konvensional, kegiatan ini menggunakan kalender dinding edukatif sebagai media utama penyampaian informasi. Setiap bulan dalam kalender memuat pesan kunci pencegahan stunting, seperti pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), gizi seimbang bagi ibu hamil dan anak balita, imunisasi lengkap, sanitasi layak, serta peran keluarga dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak.
“Kalender dipilih karena sifatnya yang praktis, awet, dan selalu terlihat di rumah tangga. Setiap hari, keluarga bisa melihat dan mengingat pesan edukasi tanpa perlu menghadiri pertemuan formal,” jelas Wim.
Tim Diskominfostandi tidak hanya membagikan kalender, tetapi juga melakukan pendampingan langsung kepada kader Posyandu, kader PKK, dan aparat desa dalam menyampaikan isi kalender kepada warga. Pendekatan ini memastikan bahwa pesan tidak hanya ditempel, tetapi juga dipahami dan diimplementasikan di tingkat rumah tangga.
Kalender edukatif ini juga dirancang dengan ilustrasi visual menarik dan menggunakan bahasa yang sederhana serta disesuaikan dengan konteks lokal, termasuk contoh pangan lokal bergizi seperti ikan sungai, sayur umbut rotan, dan ubi hutan yang mudah diakses masyarakat pedalaman.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Katingan, yang melibatkan kolaborasi lintas OPD — termasuk Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, serta TP-PKK Kabupaten.
Dengan pendekatan yang kreatif, kontekstual, dan berkelanjutan, Diskominfostandi menunjukkan bahwa komunikasi publik bukan hanya soal informasi, tapi soal menggerakkan perubahan dari dalam rumah tangga — satu kalender, satu keluarga, satu desa pada satu waktu.